Posts

Showing posts from May, 2024

Badut Tua

Badut Tua   Digenggamnya balon yang hendak bebas ke langit lepas. Jalannya tanpa alas kaki. Jelas penuh daki. Tubuhnya tua, jenggotnya putih. Tangan satunya memegang ember. Berharap tidak bertemu Paman Gober. Ke mana mereka yang di atas? Ketimpangan tidak diberantas. Oh yaa, mereka sedang cari uang untuk membuka ruang. Buat siapakah ruang itu? Entah, yang jelas, bukan untuk si badut tua.   Jakarta, 28 Mei 2024

Aaaarrrgggghhhh

Aaaarrrgggghhhh   Di antara seruputan kuah Indomie yang kumakan di warkop, kulihat anak kecil dengan karung di pundak. Wajahnya lemas dan tubuhnya kurus. Tanda kehidupan yang kurang terurus.   Ia mengais-ngais sampah di depan rumah mewah, kepunyaan pejabat yang hartanya WAH. Pukul 11 malam di arloji. Si anak masih mengais, si pejabat sedang bermimpi.   Jakarta, 27 Mei 2024

Klakson Monyet

Pak Sobari melangkah keluar rumah. Depan rumah sudah terparkir sedan mewah. Mobilnya dilengkapi sopir dan klakson monyet. Berangkat ia menuju kantor. Diterjangnya kemacetan dengan klakson monyet. Sambil senyum ia berucap, “Ah, nikmatnya jadi orang penting, seperti menenggak blewah saat tenggorokan kering.”   Jakarta, 22 Mei 2024

Di Sebuah Tanjung, 1984

Seorang tentara angkuh di rumah Tuhan, dia robek dan sobek pamflet-pamflet di papan. Warga marah, dibakar motor tentara. Lalu, warga ditangkap oleh tentara. Malamnya, pengajian diisi dengan nada-nada yang penuh kritik terhadap pemerintah. Seorang imam menyerukan kebebasan untuk rakyat. Beratus, bahkan beribu orang melakukan aksi damai untuk datangi markas tentara. Belum sampai depan markas tentara, manusia-manusia tanpa senjata itu dihadang tentara bersenjata lengkap. Tanpa aba-aba, mereka ditembak di tempat. Mayat berjatuhan di malam yang tenang itu. Darah-darah mengalir di jalan. Yang mati, ditumpuk, diangkut ke dalam truk, dibawa ke rumah sakit tentara. Mereka yang lolos, bagaimana? Tanda selamat kah mereka? Tidak, berapa hari setelah itu, mereka diburu, ditangkap, diangkut tentara tanpa bisa melawan. Mereka dibawa ke markas tentara, diinterogasi penuh siksaan. Ditampar, ditonjok, ditendang, di setrum , disiram, dilecehkan. Mereka hanya berseru, “Allahuakbar!”. “Di sini tidak ada Tu...

Darah

Apa yang kau lakukan, Jenderal? Tanganmu berlumuran darah, merah kehitamanya warnanya.   Ambisimu menghadirkan ngeri! Seram! Berjuta orang diculik, ditangkap di rumahnya sendiri. Tanpa diberi kabar, tanpa diberi keadilan, ditembak dan dipenggal.   Jakarta, 21 Mei 2024

Kamis

Payung hitam depan istana. Panas, tidak kenal lelah. Hujan, tidak kenal menyerah. Mencari keadilan entah di mana.   Jakarta, 9 Mei 2023

Munafik

Katanya, merdeka hak semua. Tapi, kenapa kirim tentara? Apa salahnya menentukan sendiri? Jangan-jangan kita munafik.   Jakarta, 9 Mei 2023

Tumbuh

Dalam kemiskinan kata kubiarkan mereka tenggelam, mencari cara untuk tumbuh. Tumbuhlah! Sampai siap kupetik.   Jakarta, 21 Mei 2024

Lapangan

Dulu, kulihat anak-anak berlarian, berlarian di lapangan. Kaki-kaki mereka menjelajah, menjelah setiap sudut lapangan.   Kini, tidak kulihat lagi mereka, tidak kulihat lagi mereka berlarian. Lapangan sudah tertutup, tertutup baja-baja ringan.   Kenapa anak-anak harus mengalah? Kenapa mereka yang kalah? Apa kebahagiaan orang dewasa lebih genting? Kenapa tidak sama penting?   Jakarta, 20 Mei 2024

Jalan Tol (Esai)

Jalan Tol   Apakah jalan tol itu lambang pemerataan? Jawabannya tergantung siapa yang menjawab. Bagi negara, pembangunan infrastrukur yang masif adalah cara untuk melakukan pemerataan. Bagi sebagian kecil orang yang kritis, pengembangan manusia melalui pendidikan dan kesehatan adalah bagian dari pemerataan, dan itu lebih penting ketimbang pembangunan infrastrukur yang masif dan monumental. Di dekat rumah saya, negara sedang membangun jalan tol baru untuk menghubungkan jabodetabek dalam satu lingkaran, tol JORR 2 namanya, sesuai namanya yang berakhiran 2, tentu ada yang pertama. Jalan tol JORR 1 memang sudah sangat sumpek dengan tumpukan mobil pribadi, bus, dan truk. Mungkin, maksud dari negara membangun tol JORR 2 untuk mengurai kemacetan yang terdapat di tol JORR 1. Saya punya cerita yang unik tentang pembangunan tol tersebut. Ruas tol yang berada dekat dengan rumah saya itu agak sedikit problematik pembangunannya, kenapa problematik? Karena pembangunan tol akan menggusur sebuah k...

Jalan Tol (Puisi)

Jalan Tol   Ku lihat jalan tol baru itu Di tengah-tengahnya terdapat kuburan Apakah orang mati tidak boleh tenang? Terhimpit oleh laju modernitas   Apakah jalan tol lambang pemerataan? Atau lambang kemelaratan? Ke mana mereka yang tergusur? Pergi untuk mereka yang subur   Jakarta, 16 Mei 2024

Pembantaian

Pembantaian Lihatlah ke timur! Lihat! Di sana ada pembantaian! Lihatlah ke barat! Lihat! Di sana ada pembantaian!   Apa dunia sudah gila? Apa nurani sudah mati? Perang dan kemiskinan adalah keniscayaan Damai dan kesetaraan adalah kemustahilan   Jakarta, 15 Mei 2024

Jakarta

Jakarta Dari balik kaca mobil hitam, kulihat senja menuju temaram John Coltrane berada di kupingku Dengan nada-nada jazz   Oh Jakarta, begitu besar dirimu Besar tanpa makna dan nilai Manusiamu adalah manusia robot Manusiamu adalah manusia mobil   Jakarta, 15 Mei 2024

Satu

Satu Aku lahir seorang diri ke dunia ini Pergi pun sendiri dari dunia ini Hidupku kelam sedari dulu Sedang mencari di mana si bahagia itu   Hidupku selalu sendiri sedari dulu Temanku tembok, kasur, dan buku Apa aku layak bahagia? Semua orang layak hidup bahagia   Kaya, miskin, tua, muda, kurus, gendut Polisi, tentara, sopir, kuli, guru, badut Semua kudu hidup bahagia Tapi, apa mungkin?   Aku mengulangi pertanyaanku sendiri Seakan aku tidak percaya pada hidup ini Para pemenang merayakan kehidupannya Para pecundang meratapi hidup kelamnya   Tapi, mungkin ada satu yang bikin bahagia Aku tidak lagi seorang diri di dunia Aku telah bertemu temanku Teman sejatiku   Aku mungkin terlalu menyedihkan Tapi, denganmu senyumku kembali kembang Walau hanya ada satu bahagia Cukup sudah bagiku   Jakarta, 15 Mei 2024