Jalan Tol (Esai)
Jalan Tol
Apakah jalan tol itu
lambang pemerataan? Jawabannya tergantung siapa yang menjawab. Bagi negara,
pembangunan infrastrukur yang masif adalah cara untuk melakukan pemerataan.
Bagi sebagian kecil orang yang kritis, pengembangan manusia melalui pendidikan
dan kesehatan adalah bagian dari pemerataan, dan itu lebih penting ketimbang
pembangunan infrastrukur yang masif dan monumental.
Di dekat rumah saya,
negara sedang membangun jalan tol baru untuk menghubungkan jabodetabek dalam
satu lingkaran, tol JORR 2 namanya, sesuai namanya yang berakhiran 2, tentu ada
yang pertama. Jalan tol JORR 1 memang sudah sangat sumpek dengan tumpukan mobil
pribadi, bus, dan truk. Mungkin, maksud dari negara membangun tol JORR 2 untuk
mengurai kemacetan yang terdapat di tol JORR 1.
Saya punya cerita
yang unik tentang pembangunan tol tersebut. Ruas tol yang berada dekat dengan
rumah saya itu agak sedikit problematik pembangunannya, kenapa problematik?
Karena pembangunan tol akan menggusur sebuah komplek pemakaman yang sangat
dicintai oleh warga sekitar. Warga sekitar menolak relokasi komplek pemakaman
dikarenakan di sana terdapat makam para sepuh yang sangat mereka hormati.
Hasilnya, penolakan keras terjadi oleh warga terhadap pembangunan jalan tol
baru itu. Alot sekali proses pembebasan lahannya, sampai-sampai pada masa
penolakannya terdapat sejumlah spanduk-spanduk yang dibentangkan di jalan-jalan
untuk menolak pembangunan jalan tol baru. Sampai pada akhirnya disepakati bahwa
komplek pemakaman itu tidak akan digusur, komplek pemakaman akan tetap ada pada
tempatnya dan tidak bergeser seinci pun, win-win
solution tentunya.
Pembangunan
dilanjutkan dengan membiarkan komplek pemakaman itu tetap ada di tengah-tengah
jalan tol. Sungguh unik, kalau anda sempat atau suatu hari nanti akan melewati
ruas tol itu ke arah Cileungsi dari arah Jakarta, anda akan melihat komplek
pemakaman yang berada di tengah-tengah jalan tol. Saya tidak tahu di tempat
lain apakah ada yang seperti itu atau tidak. Ini pertama kalinya saya melihat
yang demikian. Agak ironis melihatnya, orang-orang yang telah mati itu berada
di tengah-tengah keramaian laju kendaraan, laju modernitas. Bukankah kita semua
selalu mengucapkan, ”beristirahatlah dalam damai” ketika ada seseorang yang
pergi meninggalkan dunia ini? Hal itu nampak tidak berlaku untuk orang-orang
yang telah mati di komplek pemakaman itu, orang-orang yang telah mati itu harus
terhimpit oleh laju modernitas demi jargon pemerataan pembangunan.
Mengulang pertanyaan
di kalimat pertama, paragraf pertama. Apakah benar bahwa pembangunan jalan tol
atau pembangunan-pembangunan monumental lainnya sebagai lambang pemerataan?
Atau malah sebuah lambang kemelaratan? Memang, pembangunan jalan tol dapat
melancarkan alur distribusi barang, para produsen barang akan lebih cepat dalam
mendistribusikan barangnya untuk konsumen, perputaran ekonomi negara akan
berlangsung lancar dan menguntungkan. Tapi, apakah dengan begitu pemerataan
akan terjadi? Saya rasa tidak. Siapa yang diuntungkan dari mudahnya distribusi
barang tersebut? Tentu pengusaha dengan modal yang berlimpah. Semakin mudahnya
alur distribusi barang, semakinya cepatnya distribusi barang, pengusahan akan
semakin diuntungkan. Bagaimana dengan nasib buruhnya? Apakah dengan
diuntungkannya perusahaan dengan hadirnya tol baru akan berdampak positif juga
terhadap kehidupan buruhnya? Atau orang-orang yang terbuang karena tanahnya
tergusur oleh pembangunan jalan tol tersebut? Pertanyaan yang mungkin jawabannya
sudah kita ketahui semua.
Jalan tol, bagi mereka yang terbuang lantaran kena gusur adalah simbol keserakahan negara terhadap ruang hidup rakyatnya. Uang ganti yang selalu dimaknai ganti rugi, bukan ganti untung tidak memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Manusia-manusia yang terbuang menerima dengan pasrah tanahnya dirampas negara, demi kemajuan bangsa dan negara tanpa bisa melawan, melawan kekuatan modal. Jalan tol, bagi mereka yang berduit dan berkantong tebal adalah simbol kenyamanan, simbol pemerataan. Puji-pujian terhadap negara kerap dilontarkan dari mulut-mulut mereka, betapa mudah dan cepatnya hidup mereka sekarang dalam mengarungi lautan mobil di Jakarta, bayar mahal sedikit tidak masalah, karena buat manusia Jakarta cepat adalah segalanya, cepat adalah kemewahan, cepat adalah keuntungan. Makin cepat mereka melakukan mobilisasi, makin banyak materi yang mereka dapatkan. Tidak salah memang, tapi seperti yang Orwell bilang dalam novelnya yang berjudul The Road to Wigan Pier, “I felt that I had got to escape not merely from imperialism but from every form of man’s dominion over man. I wanted to submerge myself, to get right down among the oppressed, to be one of them and on their side against their tyrants.” Orwell seperti memberi pesan bahwa hidup adalah pilihan, pilihlah di mana anda akan berpihak. Berpihak pada mereka yang kalah, atau berpihak pada mereka yang menang.
Selayaknya semua warga negara, saya mendukung program pemerataan, saya tidak anti terhadap pembangunan dan pemerataan, saya ingin negara melakukan pemerataan yang berkeadilan bagi seluruh rakyatnya, tanpa satu rakyat pun yang tertinggal. Apakah sudah begitu layak infrastriktur pendidikan dan kesehatan kita sampai-sampai negara melupakan itu dan lebih memilih membangun proyek-proyek infrastruktur yang megah dan monumental? Apakah pengembangan manusia tidak menjadi prioritas negara? Saya rasa, negara yang adil dan makmur adalah negara yang mementingkan perkembangan manusianya, semua manusianya, semua rakyatnya, bukan hanya mementingkan segelintir orang saja. Bukankah sila kelima masih berbunyi, ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”? Belum berubah, kan, isinya? Apakah nasib orang-orang kalah tidak akan pernah berubah sampai mereka pergi dari dunia ini? Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, Orwell mengajak kita supaya memilih pihak mana yang akan kita pilih, memihak pada pemenang dalam hidup ini, atau memihak pada manusia-manusia yang kalah, yang terpojok di sudut kehidupan tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya, mungkin, untuk saat ini akan berada dipihak yang Orwell pilih. Mudah-mudahan saya akan selalu seperti itu sebagai manusia. Masih yakinkah kalian pada jargon, “Indonesia emas 2045”? Silakan direnungkan.
Comments
Post a Comment