Di Sebuah Tanjung, 1984


Seorang tentara angkuh di rumah Tuhan,

dia robek dan sobek pamflet-pamflet di papan.

Warga marah, dibakar motor tentara.

Lalu, warga ditangkap oleh tentara.

Malamnya, pengajian diisi dengan nada-nada

yang penuh kritik terhadap pemerintah.

Seorang imam menyerukan kebebasan untuk rakyat.

Beratus, bahkan beribu orang melakukan aksi damai

untuk datangi markas tentara.

Belum sampai depan markas tentara,

manusia-manusia tanpa senjata itu dihadang tentara

bersenjata lengkap. Tanpa aba-aba, mereka ditembak

di tempat. Mayat berjatuhan di malam yang tenang itu.

Darah-darah mengalir di jalan. Yang mati, ditumpuk,

diangkut ke dalam truk, dibawa ke rumah sakit tentara.

Mereka yang lolos, bagaimana? Tanda selamat kah mereka?

Tidak, berapa hari setelah itu, mereka diburu,

ditangkap, diangkut tentara tanpa bisa melawan.

Mereka dibawa ke markas tentara, diinterogasi

penuh siksaan. Ditampar, ditonjok, ditendang,

disetrum, disiram, dilecehkan.

Mereka hanya berseru, “Allahuakbar!”.

“Di sini tidak ada Tuhan!” kata tentara.

Hari-hari itu bagi mereka yang tersiksa

bagaikan hidup di neraka, lebih baik mati

daripada hidup penuh siksa fisik dan batin.

Banyak yang gila!

Siksaan itu berakhir begitu saja setelah

sebulan lebih mereka nginap di markas tentara.

Penderitaan mereka lantas berakhir?

Tentu tidak, sampai dengan 40 tahun kemudian

mereka tidak pernah mendapat keadilan.

Otak tragedi berdarah itu tidak pernah diadili.

Mereka masih terus berjuang meraih keadilan

yang entah di mana dan kapan mereka bisa dapatkan.

 

Jakarta, 21 Mei 2024

Comments

Popular posts from this blog

Manifesto 18 September