Posts

Manifesto 18 September

Di satu sore yang murung, yang senjanya berwarna merah,  bukan oranye. Seorang bapak tua sedang duduk di beranda  sambil membaca warta berita. Saking serunya membaca  warta, huruf-hurufnya ngos-ngosan kelelahan. Dia sedang seru  membacakan berita-berita hari ini.    Bapak tua itu tinggal di tengah hutan. Hutan yang kaya, flora  fauna bermacaman. Duit tak ada harganya di sana. Butuh apa,  mau apa, cari apa, semua tersedia. Namun sayang, sebab begitu kaya,  hutannya didatangi modal-modal dari luar pulau. Hidupnya sudah tidak  tenteram seperti saat modal-modal itu belum berdatangan.  Mereka datang sepaket dengan serdadu yang berwajah garang.  Bapak tua bingung, “Kalau niat baik, kenapa harus datang dengan   seperangkat alat perang?”    Hobinya memang membaca, terutama setelah datangnya  modal-modal dari luar pulau. Tiap hari selalu membaca warta,  “Ada berita apa hari ini?” pikirnya tiap melihat warta yang...

Badut Tua

Badut Tua   Digenggamnya balon yang hendak bebas ke langit lepas. Jalannya tanpa alas kaki. Jelas penuh daki. Tubuhnya tua, jenggotnya putih. Tangan satunya memegang ember. Berharap tidak bertemu Paman Gober. Ke mana mereka yang di atas? Ketimpangan tidak diberantas. Oh yaa, mereka sedang cari uang untuk membuka ruang. Buat siapakah ruang itu? Entah, yang jelas, bukan untuk si badut tua.   Jakarta, 28 Mei 2024

Aaaarrrgggghhhh

Aaaarrrgggghhhh   Di antara seruputan kuah Indomie yang kumakan di warkop, kulihat anak kecil dengan karung di pundak. Wajahnya lemas dan tubuhnya kurus. Tanda kehidupan yang kurang terurus.   Ia mengais-ngais sampah di depan rumah mewah, kepunyaan pejabat yang hartanya WAH. Pukul 11 malam di arloji. Si anak masih mengais, si pejabat sedang bermimpi.   Jakarta, 27 Mei 2024

Klakson Monyet

Pak Sobari melangkah keluar rumah. Depan rumah sudah terparkir sedan mewah. Mobilnya dilengkapi sopir dan klakson monyet. Berangkat ia menuju kantor. Diterjangnya kemacetan dengan klakson monyet. Sambil senyum ia berucap, “Ah, nikmatnya jadi orang penting, seperti menenggak blewah saat tenggorokan kering.”   Jakarta, 22 Mei 2024

Di Sebuah Tanjung, 1984

Seorang tentara angkuh di rumah Tuhan, dia robek dan sobek pamflet-pamflet di papan. Warga marah, dibakar motor tentara. Lalu, warga ditangkap oleh tentara. Malamnya, pengajian diisi dengan nada-nada yang penuh kritik terhadap pemerintah. Seorang imam menyerukan kebebasan untuk rakyat. Beratus, bahkan beribu orang melakukan aksi damai untuk datangi markas tentara. Belum sampai depan markas tentara, manusia-manusia tanpa senjata itu dihadang tentara bersenjata lengkap. Tanpa aba-aba, mereka ditembak di tempat. Mayat berjatuhan di malam yang tenang itu. Darah-darah mengalir di jalan. Yang mati, ditumpuk, diangkut ke dalam truk, dibawa ke rumah sakit tentara. Mereka yang lolos, bagaimana? Tanda selamat kah mereka? Tidak, berapa hari setelah itu, mereka diburu, ditangkap, diangkut tentara tanpa bisa melawan. Mereka dibawa ke markas tentara, diinterogasi penuh siksaan. Ditampar, ditonjok, ditendang, di setrum , disiram, dilecehkan. Mereka hanya berseru, “Allahuakbar!”. “Di sini tidak ada Tu...

Darah

Apa yang kau lakukan, Jenderal? Tanganmu berlumuran darah, merah kehitamanya warnanya.   Ambisimu menghadirkan ngeri! Seram! Berjuta orang diculik, ditangkap di rumahnya sendiri. Tanpa diberi kabar, tanpa diberi keadilan, ditembak dan dipenggal.   Jakarta, 21 Mei 2024

Kamis

Payung hitam depan istana. Panas, tidak kenal lelah. Hujan, tidak kenal menyerah. Mencari keadilan entah di mana.   Jakarta, 9 Mei 2023