Manifesto 18 September

Di satu sore yang murung, yang senjanya berwarna merah, 

bukan oranye. Seorang bapak tua sedang duduk di beranda 

sambil membaca warta berita. Saking serunya membaca 

warta, huruf-hurufnya ngos-ngosan kelelahan. Dia sedang seru 

membacakan berita-berita hari ini. 

 

Bapak tua itu tinggal di tengah hutan. Hutan yang kaya, flora 

fauna bermacaman. Duit tak ada harganya di sana. Butuh apa, 

mau apa, cari apa, semua tersedia. Namun sayang, sebab begitu kaya, 

hutannya didatangi modal-modal dari luar pulau. Hidupnya sudah tidak 

tenteram seperti saat modal-modal itu belum berdatangan. 

Mereka datang sepaket dengan serdadu yang berwajah garang. 

Bapak tua bingung, “Kalau niat baik, kenapa harus datang dengan  

seperangkat alat perang?” 

 

Hobinya memang membaca, terutama setelah datangnya 

modal-modal dari luar pulau. Tiap hari selalu membaca warta, 

“Ada berita apa hari ini?” pikirnya tiap melihat warta yang selalu 

dikirim burung cendrawasih pada waktu pagi.  

Di sana berita perampasan lahan, di sana lagi tembak-tembakan 

sampai renggut nyawa, di mana lagi berita kurang gizi, di mana 

lagi pembabatan hutan. “Setelah kedatangan modal-modal itu, 

kenapa di tanah ini beritanya selalu berita duka? Apa tanah 

ini tak berhak bahagia?” tanyanya dalam hati. Bapak tua khawatir, 

ia takut tempat tinggalnya akan dirampas, tanah ulayat yang 

sudah dijaga selama ribuan tahun secara turun temurun 

diambil paksa oleh kekuatan kapital. 

“Mau makan apa saya? Mau tinggal di mana? Di sini semuanya ada, 

saya tidak akan bisa hidup kalau tidak di sini. Ini tanah air saya, tanah nenek 

moyang, saya mau tetap di sini sampai Tuhan datang.” renung 

bapak tua dalam sekali. Air matanya hampir jatuh, air mata 

yang warnanya emas. Konon katanya, air mata emasnya disebabkan 

karena tanah tempat si bapak tua tinggal penuh sekali dengan emas, 

air yang ia minum dari tanah itu mengandung emas, maka dari itu air 

matanya jadi berwarna emas. 

 

Suatu waktu, bapak tua heran, kenapa hari itu tidak ada warta 

yang tergeletak di beranda rumahnya. Burung cendrawasih 

yang biasa kirim warta waktu pagi entah ke mana, “Mungkin 

sedang cuti, sedang mudik ke kampung.” pikir bapak tua. 

Berhari-hari, berminggu-minggu, ditunggunya burung 

cendrawasih itu, namun tak kunjung nampak si pembawa warta 

tersebut. Untuk memutus rasa penasaran, bergegas ia menuju 

agen warta berita yang berada di distrik sebelah. Berjalan 

kaki ia melewati pohon-pohon besar dan sungai-sungai  

yang arusnya tenang, sungguh indah tempat ia tinggal. 

Sesampainya ia di distrik sebelah, ia sungguh kaget, distrik itu 

sudah porak poranda, penghuninya kabur masuk ke hutan 

belantara, takut dikejar-kejar oleh serdadu berwajah garang. 

Semakin terkejutnya ia ketika melihat agen warta berita yang 

selalu mengiriminya warta sudah hangus oleh api, agen itu nampak 

diamuk api sampai jadi abu. Hancur hatinya, remuk 

redam, sedu sedan. Terduduk ia di depan agen warta berita, 

“Sebab ini burung itu tidak pernah lagi berkunjung ke rumahku, 

ia kehilangan tempatnya, bahkan mungkin ia sudah 

mati sekarang. Di mana engkau wahai burung berbulu cantik?” katanya 

dalam hati dengan penuh renungan. Berdiri dan berjalan lagi ia 

mengelilingi distrik yang porak poranda itu, dilihatnya banyak 

nyawa-nyawa tak berdosa tewas, perempuan muda, ibu-ibu, anak-anak. 

Tewas mengenaskan. “Sekarang aku tahu, kenapa akhir-akhir ini 

senja di tanahku sinarnya berwarna merah. Senja di tanah ini telah terciprat 

darah dari nyawa-nyawa tak berdosa, alam mengisyaratkan 

murung dan kelam.” pikirnya sambil termenung. 

 

Setelah lelah hati dengan apa yang ia lihat, bapak tua memutuskan 

untuk kembali pulang ke rumahnya. Berjalan ia ke rumah dengan  

hati yang berduka. Saudara-saudaranya pergi dengan merana, 

tak sempat anak-anak kecil itu merasakan nikmatnya hidup di tanah 

surga. Ia kembali berjalan melewati sunga-sungai dan pohon-pohon besar, 

pemandangannya yang indah tidak dapat menghibur hatinya yang nelangsa. 

Tanah seindah itu akan terus terasa penuh luka dan air mata ketika kebebasan 

untuk hidup masih dibelenggu. Kebebasan adalah keindahan yang sejati, ia 

membawa keindahan bagi yang merasakannya, bagi yang mendambakannya. 

Sampai juga akhirnya ia di rumah, hal pertama yang ia lakukan ketika 

sampai adalah membersihkan badan yang penuh debu dan luka, perih rasanya 

luka-luka itu ketika terkena guyuran air. Sambil terus mengguyur lukanya 

ia berseru dengan lantang, “Pada hari ini secara tegas, kami masyarakat 

adat Papua menolak deforestasi yang merusak tanah, hutan, 

dan air kami masyarakat adat Papua. Karena di situ tempat kami hidup, 

kami makan, bahkan generasi kami turun temurun sampai Tuhan datang.”

 

Leo Naldi

Jakarta 13 Juni 2024

Comments